Pemilih di Persimpangan Demokrasi: Penonton atau Penentu?
|
Situbondo- Di tengah dinamika demokrasi yang terus berkembang, posisi pemilih kembali menjadi sorotan. Apakah masyarakat benar-benar menjadi penentu arah demokrasi, atau justru hanya sekadar penonton dalam proses politik yang berjalan?
Dini Meilia Meiranda Kordiv Pencegahan, Parmas dan Humas Bawaslu Situbondo membahasnya melalui konsolidasi demokrasi di Balai Desa Lubawang yang dihadiri oleh perangkat desa tersebut pada Kamis, 16 April 2026.
Dini mengesankan bahwa pemilih adalah pusat demokrasi. Pemilu sebagai instrumen utama demokrasi sejatinya menempatkan pemilih sebagai aktor kunci. Suara rakyat menjadi legitimasi bagi lahirnya pemimpin dan arah kebijakan publik. Namun dalam praktiknya, masih banyak tantangan yang membuat peran strategis tersebut belum sepenuhnya optimal.
Dipaparkan pula fenomena apatisme politik, rendahnya literasi demokrasi, hingga maraknya disinformasi menjadi faktor yang berkontribusi terhadap melemahnya posisi pemilih. Tidak sedikit masyarakat yang menggunakan hak pilih tanpa didasari pemahaman yang utuh terhadap visi, misi, maupun rekam jejak calon. Bahkan, sebagian lainnya memilih untuk tidak berpartisipasi sama sekali.
Kondisi inilah yang juga menjadi salah satu alasan dilaksanakannya konsolidasi demokrasi yang digaungkan oleh Bawaslu RI hingga daerah.
Tentunya juga menimbulkan kekhawatiran bahwa pemilih hanya hadir sebagai formalitas demokrasi, bukan sebagai kekuatan substantif yang menentukan arah bangsa. Padahal, dalam sistem demokrasi yang sehat, pemilih tidak hanya berperan saat hari pencoblosan, tetapi juga aktif dalam mengawal proses politik secara berkelanjutan.
Di sisi lain, berbagai upaya terus dilakukan oleh penyelenggara pemilu dan stakeholder terkait untuk memperkuat posisi pemilih. Edukasi politik, sosialisasi kepemiluan, serta penguatan pengawasan partisipatif menjadi langkah strategis untuk mendorong pemilih agar lebih kritis dan rasional.
"Momentum ini menjadi penting, terutama sebagai refleksi menuju pemilu mendatang. Pemilih dituntut tidak hanya cerdas dalam memilih, tetapi juga berani bersikap terhadap berbagai dinamika politik yang terjadi," jelas Dini.
"Pada akhirnya, masa depan demokrasi sangat ditentukan oleh bagaimana pemilih memaknai perannya. Apakah tetap menjadi penonton yang pasif, atau bangkit sebagai penentu yang aktif dan berdaya?," lanjutnya.
Penegasan yang disampaikan ini untuk meneguhkan kembali posisi strategis pemilih sebagai penentu arah kebijakan dan masa depan bangsa.
"Suara rakyat, kekuatan demokrasi kita.Jadi pahami posisi kita sebagai pemilih dalam pelaksanaan Pemilu. Kuatnya demokrasi ditentukan oleh pemilih yang sadar, kritis, dan bertanggung jawab dalam setiap pilihan politiknya," tutup Dini.
Penulis & Editor : Dini Meilia Meiranda