Konsolidasi Demokrasi: Membedah Apatisme Pemilih Melalui Analisis Sosial dan Rekayasa Sosial
|
Situbondo- 4 April 2026, bertempat di Wisma Baluran, telah diselenggarakan kegiatan Konsolidasi Demokrasi yang melibatkan mahasiswa dalam forum diskusi bertajuk "Analisis Sosial dan Rekayasa Sosial: Membedah Realitas Sosial Apatisme Pemilih dalam Pemilu".
Kegiatan ini diinisasi oleh Bawaslu Kabupaten Situbondo, yang bertujuan meningkatkan kesadaran politik generasi muda sekaligus memperkuat pemahaman mengenai berbagai faktor yang memengaruhi rendahnya partisipasi masyarakat dalam pemilu. Melalui pendekatan analisis sosial, peserta diajak mengidentifikasi penyebab munculnya sikap apatis di kalangan pemilih, seperti menurunnya kepercayaan terhadap institusi politik, minimnya pendidikan politik, penyebaran disinformasi, serta anggapan bahwa suara individu tidak membawa perubahan yang berarti.
Selain itu, forum juga membahas konsep rekayasa sosial sebagai upaya membangun perubahan perilaku masyarakat melalui strategi komunikasi, pendidikan politik, penguatan literasi digital, dan partisipasi aktif warga. Rekayasa sosial dalam konteks ini dipahami sebagai pendekatan yang bertujuan mendorong keterlibatan masyarakat secara demokratis, bukan sebagai bentuk manipulasi politik.
Diskusi berlangsung secara interaktif dengan melibatkan mahasiswa untuk menyampaikan pandangan, pengalaman, serta gagasan mengenai kondisi demokrasi di Indonesia. Berbagai perspektif yang muncul menunjukkan bahwa meningkatnya partisipasi politik tidak hanya bergantung pada penyelenggaraan pemilu yang baik, tetapi juga pada kepercayaan publik, kualitas kepemimpinan, transparansi pemerintahan, serta ruang dialog yang terbuka antara masyarakat dan pemangku kepentingan.
Melalui kegiatan Konsolidasi Demokrasi ini, para peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang mendorong budaya politik yang kritis, rasional, dan partisipatif. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pemilih yang cerdas, tetapi juga berperan aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya partisipasi dalam proses demokrasi sebagai bagian dari upaya mewujudkan pemerintahan yang akuntabel dan berorientasi pada kepentingan publik.
Kegiatan di Wisma Baluran menjadi salah satu ruang refleksi bersama bahwa penguatan demokrasi tidak cukup hanya melalui penyelenggaraan pemilu, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat, pendidikan politik yang berkelanjutan, serta kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, dan berbagai elemen masyarakat untuk membangun demokrasi yang lebih inklusif, berintegritas, dan berkualitas.
Penulis : Dini Meilia Meiranda